Jalan- jalan anggota Milist RDI Ke Museum Fatahillah (museum sejarah Jakarta) di waktu malam hari


bannerkg3Ilmu pengetahuan berawal dari sejarah. Perubahan suatu daerah bisa tercatat baik dengan adanya bukti sejarah dan hal ini kita lihat di museum. Menjelang ulang tahun Jakarta yang ke – (berapa yah), saya berkesempatan bersama rekan-rekan milist RDI untuk mengunjungi museum Fatahillah, tempat dimana kita bisa melihat sejarah jakarta dari jaman portugis hingga jaman sekarang.

Nampaknya pada kesempatan kali ini saya datang lebih awal, karena ingin mencoba kemampuan berkamera. sesampai di taman fatahillah, saya mengambil gambar beberapa objekyang menurut saya cukup menarik dan melihat dari dekat pemandangan taman ini. Dengan Camera canon 7.1 MP dan LG Kg300 (2MP), saya mencoba beberapa objek dan gambar nampak gelap (maklum 2 piranti saya ini minim flash). Beberapa foto saya tampilkan disini, namun di blog ini semua foto resolusi nya saya  sengaja saya kecilkan agar muat banyak.

Awal perjalanan dijelaskan oleh pak Akum sebagai tur guide mengenai nama Museum Fatahillah  yang sebenarnya adalah  museum Sejarah Jakarta, nama museum fatahillah diperkirakan karena Museum ini terletak tepat di lapangan besar yang di dikenal dengan sebutan Taman Fatahillah. Gedung ini dulunya dibangun tangal 17 Januari 1707 dan berfungsi sebagai Kantor Balai Kota. Kemudian berubah fungsi menjadi kantor pemerintahan jepang, trus markas militer dan terakhir menjadi museum.

Dari taman tempat kita berkumpul, terdapat benda-benda pameran seperti Patung hermes atau dewa perdagangan yang dulunya beradar di Harmoni, namun karena sempat mengalami kerusakan akhirnya dipindahkan ke museum ini dan replikanya masih di harmoni (deket halte Busway harmoni)

Perjalanan dilanjutkan Meriam Si Jagur, yang konon ikon Museum Fatahillah. Cerita pak Ukam, (eh Akum), sangat seru karena meriam ini terbuat dari 17 meriam kecil yang dilebur menjadi Si Jagur ini. Panjangnya  3,8 m dan di ujungnya terdapat tangan dengan jempol terjepit di antara telunjuk dan jari tengah (lihat aja gambarnya). Saya sendiri sedikit bingung karena simbol ini agak ngeres/jorok (ngertikan?) namun setelah mendengar penjelasan abah Akum bahwa simbol ini artinya simbol kejantanan laki-laki (koq bisa). Namun jika kita bergeser sedikit keatas terdapat gelang yang melambangkan kesuburan. Namun yang paling menarik meriam ini juga sebagai  lambang keberhasilan bisnis, kelanggengan jodoh dan garis keturunan. Makanya juga bagi sebagian orang yang ingin agar bisnisnya berhasil, mendapat jodoh, keturunan mengunjungi meriam ini (percaya gak percaya).Untuk orang yang belum mendapatkan keturunan, dengan menduduki lambang tangan terkepal di meriam tersebut dikabarkan kan hamil. Namun, info ini tidak lengkap karena apa harus duduk di kepalan tangan tersebut, apakah sang suami/istri  yang duduk, dan arah duduknya yang tidak jelas (berminat ? hubungi saja pak Ukam).

Perjalanan berikutnya kita menuju ke sumur yang terbilang diameternay sekitar 3 m, yang konon dalemnya 20m dan dulu selain sebagai tempat sumber air untuk para tahanan, juga digunakan sebagai tempat pembuangan mayat-mayat tahanan (ih serem…mirip lubang buaya) saking seremnya mbah akum menegaskan ikan yang ada disini gak pernah ditanam,(maksudnya yang ditanam kan tumbuhan bukan hewan J it’s joke!!!)…yup mbah Akum sukanya ngebanyol…kadang-kadang saya sendiri suka bingung antara penjelasan yang serius dan banyolan.

Perjalanan berikutnya ke penjara bawah tanah, dan yang merupakan tempat penyekapan tawanan dan budak (apa bedanya..toh sama-sama diperas). Dalam ruangan yang sangat sempit ini, konon pernah digunakan hingga untuk 70 orang, dan kebayang sesaknya seperti apa (lihat aja gambarnya)

Perjalanan dilanjutkan ke dalam gedung museum. Koleksi yang ditunjukkan mulai dari penutup lampu, guci/tembikar, koleksi keramik, meja, lukisan, dari jaman dahulu dan yang paling menarik adalah pedang algojo yang digunakan untuk memenggal budak-budak majikan Belanda. Koleksi pelengkap lainya antara lain seperti replika prasasti, alat ruamh tangga dari jaman – ke jaman.

Bukan museum sejarah Jakarta jika tidak meyimpan koleksi dari jaman sekarang semisal becak, gerobak kelontong  warung biru yang sering kita lihat di sudut jalan dan gerobak abang tukang bakso (sempat kaget ada kerupuknya juga lho).

Kesan umum yang saya dapatkan bahwa koleksi nya lumayan lengkap, namun sedikit terganggu karena koleksinya kurang terawat (maklum anggaran terbatas). Ditengah  maraknya kunjungan ke kota tua, dan wisatawan lokal ke museum seharusnya lah kita menjaga koleksi budaya agar warisan dan pengetahuan terus terwarisi dengan baik.