Mengatasi stress pada anak dan Gejalanya


anak stressTak seorangpun orangtua menginginkan anaknya mendapati stress. Stress adalah penyakit yang mudah ditularkan kepada orang. Apalagi, kebanyakan masyarakat memiliki empati yang tinggi sehingga menyebabkan seseorang dapat turut serta erasakan stress yang dihadapai. Stres kronis memiliki konsekuensi kesehatan angka panang apabila tidak segera ditangani. Bagi anak-aank yang mbelum sepenuhnyabisa menelaskan apa yang dirasakan hal ini dapat membuat anda sebagai orangtua atau pengasuh merasa stres. Seorang bayi yang memiliki koertisol atau hormon stress yang tinggi lebih beresiko memiliki masalah perilaku dan berbagai penyakit yang berhubungan dengan stres di kemudian hari. Dalam skenario terburuk stres dapat menghambat pertumbuhan otak dan memperpendek umur. Astaga… tampaknya mengerikan sekali ya bun! Namun, mulai saat ini anda tidak perlu khawatir. Beberapa peneliti dan psikolog anak menemukan beberapa cara yang dapat dilakukan untuk melindungi bayi dari stress.

Stress yang teradi pada anak-anak seringkali disebabkan oleh beberapa masalah kesehatan seperti sakit kepala, kelelahan, sakit perut, dan gangguan tidur. Dalam jangka panang hal ini dapat berkemabang menadi tekanan darah tinggi, jantung, obesitas, dan diabetes. Beberapa orangtua tidak menyadari penyakit tersebut dapat menyebabkan stress pada anak-anak. Stress pada anak dan remaa uga dapat menyebabkan kecemasan sehingga dapat mempengaruhi aktifitas sehari-hari dan kegiatan akademiknya. Lalu seperti apa gejala stres yang terjadi pada anak dan apa yang dapat kita lakukan sebagi orangtua untuk mengurangi stres pada anak kita?

Lima gejala stress pada anak

  1. Menunjukkan gerakan peculiar. Gerakan aneh yang ditunjukkan oleh bayi bisa jadi merupakan indikasi stress yang dihadapi. Jika anda melihat si kecil membungkukkan tubuhnya sambil menangis memegangi perut atau menangis sambil memegangi bagian tubuhnya yang sakit anda dapat menenangkan bayi dengan membawanya dalam pelukan anda atau menekan bagian yang sakit tersebut.
  2. Tangisan yang tak terkendali. Terus-terusan menangis dengan volume yang kencang merupakan gejala lain yang menonjol dari gejala stres pada bayi. Bayi mungkin menangis karena terlalu banyak suara, orang, dan banyak keributan yang terjadi. Hal ini dapat menjadi lebih sulit jika anda mencoba memberinya makan di saat yang bersamaan. Bisa jadi si kecil malah tidak mau makan dan menangis lebih kencang. Lingkungan yang tidak nyaman juga menyebabkan bayi merasa stres sehingga lebih rewel, gelisah, tidak nyaman, sehingga tubuh akan menunjukkan dengan menangis yang kencang, menggeliat kesana kemari, menghindari kontak mata, dan melengkungkan pungguung. Menjaga lingkungan yang tenang dapat membantu melindungi bayi dari stres lingkungan.
  3. Menderita gangguan tidur. Bayi atau balita yang sress mungkin selalu bangun sepanang malam dan menangis serta menjerit. Sebagai orangtau anda pasti ikut stres merasakan hal tersebut. Hal itu merupakan indikasi bahwa si kecil sedang mengalami gangguan dalam tubuhnya. Hal itu bisa disebabkan karena ada yang tidak beres yang terjadi, misalnya karena sakit. Jika anda mendapati si kecil mengalami hal tersebut, anda harus lebih peka ya bun! Mungkin si kecil merasakan ada yang tidak beres dalam tubuhnya.
  4. Menderita gangguan pencernaan. Sebuah penelitian mengatakan perut merupakan otak kedua dalam tubuh manusia. Jika organ-organ dalam perut mengalami masalah, dapat dipastikan hal tersebut menimbulkan stres bagi siapapun yang mengalaminya tidak terkecuali bayi atau balita. Bayi yang mengalami masalah pencernaan biasanya memuntahkan makanan yang diberikan menolak minum ASI, atau berbagai penolakan lainnya. Anda dapat memijat lembut perut bayi untuk meringankan stres yang dialami, mungkin si kecil menderita sembelit atau gangguan pencernaan.
  5. Enggan melakukan kontak mata. Ketika bayi enggan melakukan kontak mata atau mencoba untuk menghindari mengekspresikan perasaan bisa adi hal tersebut disebabkan karena kondisi bayi yang sedang stress.Jika si kecil yang biasanya ceria dan ekspresif tiba-tiba enjadi tenang dan tidak tertarik dengan berbagai hal mungkin dikarenakan dirinya sedang stress.

Penyebab stress pada anak tidak sama antara anak yang satu dengan anak yang lainnya. Namun pada umumnya anak-anak mengalami stres karena situasi di sekitar yang membuat si kecil merasa tidak nyaman. Beberapa peneliti mengungkapkan penyebab stress pada anak seperti yang tertulis di bawah ini:

  • Keidaknyamanan fisik.

Ketidaknyamanan fisik seperti nyeri, kelelahan, suhu yang tidak menentu, bisa menjadi penyebab utama dari stres yang terjadi pada anak-anak atau balita. Perubahan besar di lingkungan sekitar yang ekstrim juga dapat mempengaruhi kondisi fisik sehingga si kecil mudah gelisah, takut, dan tidak nyaman yang menyebabkan stres.

  • Tidak merespon atau tertekan

Bayi biasanya mudah akrab, penuh ekspresi, senang memandang wajah dan mendengarkan suara orang-orang yang berada di sekelilingnya terutama ibu nya. Balita yang memiliki ibu penderita depresi kurang responsif terhadap suara dan wajjah rang yang berada di sekelilingnya sehingga bayi menadi lebih mudah rewel dan sering merasa cemas. Tekanan seperti pksaan yang dilakukan untuk melakukan sesuatu juga merupakan salah satu penyebab stres pada anak

  • Berpisah dengan orangtua atau pengasuh

Bersama penasuh atau orangtua dapat membuat bayi merasa aman dan nyaman sehingga ketika keduanya dipisahkan untuk waktu yang hanya sementara bayi mungkinmerasa cemas dan panik. Akibatnya si kecil bisa menangis sangat keras untuk mengekspresikan perasaannya.

  • Jadwal yang terlalu padat

Bagi balita yang memiliki jadwal terlalu banyak lebih rentan mendapatkan stres. Anak-anak bukanlah robot yang bisa melakukan berbagai hal tanpa lelah, jadi meskipun anda menginginkan yang terbaik untuknya anda tetap harus memperhatikan kondisinya ya bun! Terlalu banyak memberikan jadwal kegiatan bukan sebuah hal yang bijaksana.

  • Kelalaian orangtua

Bayi atau balita mungkin akan merasa stres jika mendapati kedua orangtua atau pengasunya tidak mendampinginya. Hormon korsitol penyebab stress dapat meningkat dalam tubuh si kecil saat dia merasa terabaikan sehingga ia akan merasa sangat cemas. Balita mungkin akan mendapatkan stress pada hari berikutnya, dan hal itu dapat menurunkan sistem imunitas si kecil. Perawatan dan perhatian dari seorang ibu sangatlah penting untuk membuat balita merasa aman, nyaman, bahagia sehingga terbebas dari stress.

Wah.. ternyata banyak sekali ya bun sesuatu yang dapat membuat si kecil mengalami stres. Beberapa penelitian mengatakan kekuatan sensitivitas yang dimiliki orangtua dan kemampuan membaca isyarat yang diberikan bayi dengan tepat dan akurat dapat mengurasi stres pada bayi. Orangtua yang menunukkan sensitivitas tinggi cenderung memiliki bayi yang memiliki hormon kortisol yang rendah. Berikut ini adala beberapa tips yang dapat anda lakukan untuk mencegah dan mengatasi stress yang terjadi pada anak-anak.

5 Cara Mencegah dan Mengatasi Stress Pada Anak

  1. Perhatikan balita anda. banyak menyentuh anak-anak dapat membuat si kecil merasa terlindungi sehingga menauhkannya dari stres.kontak fisik yang dilakukan dapat memicu lepasnya beberapa bahan kimia penghilang stres yang ada di dalam otak. hal ini memiliki efek menenangkan dan membantu si kecil menghentikan hormon kortisol. Namun beberapa anak memiliki alergi terhadap sentuhan. Waspadai anak yang seperti ini ya bun bisa adi sentuhan tersebut malah lebih membuanay merasa cemas dan stres.
  2. Minatalah si kecil untuk mendengarkan musik yang lembut. Musik dapat menurunkan denyut nadi bayi yang prematur, mengurangi rasa sakit bagi bayi pasien gawat darurat dan dapat mengurangi kecemasan pada pasien yang akan melakukan operasi. Biasakan mengaak sikeci mendengarkan musik sehingga tubuh dapat melepaskan hormon baik yang dapat menangkal stres.
  3. Balita memahami apa yang anda rasakan. Ketika anda merasa terganggu, marah, atau tertekan anda mungkin berfikir si kecill tidak tahu akan hal tersebut. Namun penelitian menunjukkan sebaliknya. Bayi berusia 6 bulan dapat membedakan antara bahagia sedih atau marah melalui bahasa tubuh yang anda tunjukkan. Balita yang terbiasa melihat pertengkaran atau suara yang tidak baik dari orang sekitar lebih rentan mengembangkan stres yang abnormal.
  4. Pastikan si kecil tidur dengan baik. Kurang istirahat dapat membuat anak-anak merasa rewel dan uga merasa cemas. Luangkan waktu untuk bersantai sejenak bersama keluarga pikirkan berbagai macam hal indah yang dapat anda lakukan atau yang telah anda lakukan bersama anak anda hari ini. Jangan lupa untuk mengajak si kecil berbicara tentang segala hal. Penelitian menunjukkan melibatkan anak-anak sebagai mitra percakapan memberikan banyak manfaat untuk si kecil serta dapat mempererat hubungan keterikatan yang lebih baik.
  5. Berkeliling sejenak. Hal ini merupakan kebijaksanaan yang dimiiki oleh orangtua. Balita ingin dibawa berkeliling atau sekedar berjalan-jalan di sekitar daripada berdiam diri tidak bergerak. Dalam serangkaian percobaan yang dilakukan peneliti, menunjukkan bahwa bayi memgalami detak jantung yan lebih lambat, lebih tenang dan tidak rewel ketika mereka dibawa berjalan-jalan dari satu tempat ke tempat yang lain.

Jika ingin konsultasi lanjut hubungi:

Ferinaldy
Transformasi Motivasindo Management

Ph: 0812 9535 0040 -081384515489

Email : motivabrain@gmail.com
Website: http://www.trainingmotivasia.wordpress.com